Honesty is an expensive gift, don't hope it from cheap people
Bagian 3 Sore telah beranjak malam saat aku sampai di gubug kecil tempat ibu, aku dan Ratna, adikku tinggal. Ratna sedang melipat pakaian dan Ibu tengah menjahit baju seragam batikku yang robek sakunya. “Assalammualaikum.” “Wa’alaikumsalaam…Alhamdulillah kau sudah pulang le. Ratna sudah menunggumu dari tadi.” Ibu dan Ratna tersenyum lega. “Wah, kayaknya Ratna mau kasih coklat lagi nih sama kakak,” meski aku tahu Ratna menungguku untuk membantu mengerjakan PR nya, meledeknya benar-benar menyenangkan. Tapi anehnya Ratna benar-benar punya coklat, padahal uang sakunya seminggu pun tidak akan cukup untuk beli coklat sebesar itu. “Iya kak, ntar kalau PR nya dah kelar Ratna kasih coklat deh.” Ibu dan aku berpandangan, ternyata kami sama-sama terkejut. Ehm, pas tanggal 14 Februari kemarin Ratna dikasih coklat sama Agus, Ulin, Satrio, mas Dani dan mas Akmal. Aku dan ibu semakin terbeliak. “Busyeeet!! Siapa mereka? Pacarmu?” tanpa sadar aku sudah memberondongnya dengan pertany...